Showing posts with label SKK Migas. Show all posts
Showing posts with label SKK Migas. Show all posts

Wednesday, 5 November 2014

Presiden Baru, Menteri Baru, Dirjen Migas Pun Baru!

Naryanto Wagimin
Ada keputusan besar yang sudah diambil oleh satu menteri Jokowi. Setelah agenda para menteri dipenuhi dengan meeting sana sini, akhirnya ada satu keputusan konkrit yang diambil. Adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said yang mencopot jabatan Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Edy Hermantoro terhitung pada Selasa, 4 November 2014 dan akan digantikan oleh Naryanto Wagimin sebagai pelaksana tugas.

"Tadi pagi, saya menandatangani SK pengangkatan Plt Dirjen Migas Ir. Naryanto Wagimin M,Sc meneruskan Bapak Edy Hermanto," ujar Sudirman.

Sudirman mengangkat Wagimin dengan harapan agar yang ditunjuk tersebut bisa menyelesaikan masalah yang terjadi terutama di sektor hulu migas saat ini.
"Ini bagian upaya mengurai sumbatan supaya hal-hal yang tertunda dapat dilanjutkan," ungkap Sudirman.

Sudirman mengatakan pencopotan tersebut didasarkan pada hasil laporan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang menemukan hambatan dan perlambatan pada Ditjen Migas dari seluruh program nasional. Sudirman pun menegaskan tidak memberikan opini pribadi mengenai kinerja Edy. "Saya tidak ngin melakukan judgement di pers, laporan UKP4 banyak sekali program yang terhambat di situ dan akan diperbaiki," ujar Sudirman.

Hambatan-hambatan tersebut termasuk juga perizinan yang alot yang sangat berpengaruh besar ke sektor industri. "Ini merupakan bagian dari upaya mengurai sumbatan, supaya hal-hal terunda itu bisa segera diselesaikan," ujarnya.

Sudirman juga menegaskan upaya penyederhaan akan terus dilakukan sesuai dengan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Kalau kita enggak punya 'interest' (kepentingan) apa-apa, kita tengok kanan kiri, di situ lah kerumitan terjadi. Kita fokusnya ke rakyat saja," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa dirinya akan memfokuskan diri pada hal-hal mendasar, seperti ketersediaan listrik, percepatan perizinan, pengolaan ESDM dan Migas dengan baik serta mengurangi ekspor bahan mentah tanpa diproses.

Edy Hermantoro lahir di Yogyakarta 7 Oktober 1956. Ia dilantik menjadi Dirjen Migas Kementerian ESDM pada 31 Januari 2013, menggantikan Evita Herawati Legowo yang pensiun pada 1 Desember 2012.

Lulusan dari Fakultas Geologi di UPN Veteran ini mengawali kariernya di Kementerian ESDM sejak 1987 hingga kini. Sebelum menjadi Dirjen Migas, Edy pernah  menempati sejumlah posisi penting di Kementerian ESDM.

Beberapa jabatan di antaranya Kepala Biro Perencanaan dan Operasi di Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM. Direktur Pembinaan Hulu Minyak dan Gas Dirjen Migas. Saat ini,  Edy menjabat sebagai komisaris PT PGN.

Seperti yang sudah diketahui, Naryanto Wagimin sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Pembinaan Hulu Migas yang juga pernah menjadi Direktur Program Migas.

Meskipun belum menerima surat pengangkatan, Naryanto menegaskan bahwa dirinya siap melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia meyakinkan akan berusaha memecahkan sejumlah permasalahan di sektor hulu migas. Target utamanya adalah untuk memberikan kepastian terkait perpanjangan kontrak wilayah kerja migas.

"Lima tahun ke depan kan ada 20 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) perpanjangan kontrak dan itu harus diselesaikan karena ada potensi produksi gas 30% dan minyak 20% harus ada kepastian itu akan diperpanjang atau tidak," ujar Naryanto.

Beberapa blok migas yang kontraknya akan berakhir dalam waktu dekat adalah blok Siak dengan operator Chevron Pacific Indonesia (2013), blok Gebang dengan operator JOB Pertamina-Costa (2015), blok Mahakam dengan operator Total E&P Indonesie (2017), Offshore North West Java (2017), dan blok Tuban (2018).

Presiden baru, menteri baru, dirjen migas pun baru! Selamat bertugas dan semoga amanah! Semoga kejelasan akan nasib kontrak migas menjadi prioritas utama begitu menjabat.



Tuesday, 16 September 2014

Kontrak Total E&P Indonesie di Blok Mahakam Akan Diperpanjang

Aussie Gautama
Ditangkapnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik sempat menimbulkan kegegeran dan pertanyaan besar terkait nasib berbagai kontrak migas. Salah satu yang paling banyak disasari adalah nasib Blok Mahakam karena kontrak akan berakhir tahun 2017 dengan Total E&P Indonesie. Namun hingga saat ini permohonan perpanjangan kontrak Blok Mahakam belum ditanggapi.

Padahal menurut Aussie B Gautama, Deputi Pengendalian dan Perencanaan SKK Migas, dengan adanya keputusan lanjut tidaknya kontrak akan menjadi landasan bagi Total E&P untuk menambah atau tidaknya besaran investasi di Blok Mahakam.

"Kami sudah memberikan rekomendasi berupa pertimbangan teknis mengenai cadangan dan keekonomian. Posisi kami sebaiknya diputuskan sesegera mungkin," ujar Aussie.

Aussie juga sempat menjelaskan bahwa SKK Migas telah mengirimkan rekomendasi ke ESDM sejak 2012 silam mengenai kelanjutan operasi di Blok Mahakam. Karena jika pengelolaan blok diserahkan ke Pertamina, waktu adaptasi untuk menjadi kinerja lifting migas pastilah diperlukan. Maka dari itu, kepastian harus disegerakan.

SKK Migas menganggap bahwa Blok Mahakam masih tergolong signifikan untuk terus dikembangkan karena produksinya yang cukup besar, yaitu 1.750 million metric standard cubic feet per day (mmscfd) dan kondesat 70.000 hingga 76.000 barel per hari (bph).

"Hitungan kami bisa diproduksi hingga tahun 2032, dengan melihat cadangan dan laju penurunan produksi," pungkas Aussie.

Komaidi Notonegoro, pengamat energi dari ReforMiner Institute, berpendapat bahwa mundurnya kepastian perpanjangan kontrak blok migas akan berdampak pada turunnya tingkat produksi migas. "Sebab investor menahan investasi dan tidak ada ekspansi," tukasnya.

Di sisi lain, seperti yang sudah diketahui bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan segera meresmikan proyek Sisi-Nubi Fase 2B yang dikerjakan oleh Total E&P Indonesie dan melibatkan investasi US$739 juta, di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim).

Proyek ini sebagai bagian dari rangkaian pengembangan Lapangan Sisi-Nubi di Blok Mahakam yang terletak di lepas pantai Kutai Kartanegara, Kaltim. Total E&P Indonesie, menyatakan bahwa proyek pengembangan Sisi-Nubi Fase 2B bertujuan untuk memadang dua wellhead platform baru. Platform tersebut yaitu WPS2 di Lapangan Sisi dan WPN3 di Lapangan Nubi, termasuk jaringan pipa interkoneksi yang akan terhubung dengan dua platform yang sudah ada di masing-masing lapangan.

“Sesuai dengan rencana pengembangan [POD] yang telah disetujui proyek Sisi-Nubi Fase 2 [Fase 2A dan 2B] akan menambah 35 sumur dan menelan biaya US$1,033 miliar, dimana US$ 739 juta dialokasikan untuk Fase 2B,” imbuh Hardy Pramono, President & GM Total E&P Indonesie.

Menurut data yang ada, Total/Inpex rata-rata membelanjakan US$2,5 miliar per tahun di Blok Mahakam, dan proyek ini sebagai bentuk komitmen Total/Inpex untuk terus berinvestasi di blok migas tersebut. Pada 2012, Total E&P Indonesia membangun tiga platform yakni Stupa, West Stupa dan East Mandu yang kesemuanya berada di proyek South Mahakam fase 1 & 2, dan pada pertengahan 2013 menambah 6 platform baru di blok Mahakam.


Memang SBY mengeluarkan kebijakan yang tepat dengan memperpanjang kontrak kepada Total E&P Indonesie karena sejauh ini Total E&P Indonesie memang berkinerja sangat baik dalam mengelola Blok Mahakam. Untung saja blok sulit tersebut tidak diberikan kepada Pertamina yang sedang terombang-ambing sepeninggalan direktur utama mereka.

Thursday, 14 August 2014

Output Total E&P Indonesie Menurun di Tengah Tahun Kedua

Total E&P Indonesie
Setelah menghasilkan minyak dan gas (minyak) yang lebih di luar dugaan pada tengah tahun pertama tahun ini, Total E&P Indonesie, cabang dari perusahaan minyak raksasa asal Perancis, memprediksi bahwa mereka akan menghasilkan produksi yang lebih sedikit pada enam bulan mendatang.

Produksi gas Total E&P Indonesie mencapai 1,740 juta standard cubic feet per day (mmscfd) dari Januari hingga Juni tahun ini, yang mana sudah melewati target 1,660 tahun ini, ungkap juru bicara Kristanto Hartadi.

Minyak yang dihasilkan mencapai 69,800 barel per hari (bpd) pada tengah tahun pertama, yang mana lebih tinggi dari target setahun penuh 62,900 barel per hari.

“Kita sedang bekerja keras untuk mempertahankan produksi agar setidaknya berada di tingkat yang sama dengan tahun lalu,” ujar Kristanto, merujuk pada 1,760 mmscfd gas, 67,000 bpd minyak Total E&P Indonesie pada tahun 2013.

Banyak bidang yang sudah berkembang pesat di Indonesia, mantan anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang mana sedang berusaha keras untuk mengerem laju kemunduran produksi.

“Pada tengah tahun kedua, aka nada penurunan sedikit karena pekerjaan maintenance. Satu yang akan berhenti beroperasi adalah processing unit di Senipah (di Kalimantan Timut) sekitar bulan Agustus. Efek pada produksinya sudah diperhitungkan,” kata Kristanto, yang menolak untuk mengungkapkan estimasi penurunan output akibat dari ditutupnya unit tersebut.

Saat ini Total E&P Indonesie adalah kontraktor ketiga terbesar dalam hal hasil minyak di Indonesia. Hasil yang fantastis tersebut karena Total bisa memanfaatkan Blok Mahakam dengan baik dan maksimal. Sayangnya, kontrak Total di Blok Mahakam akan berakhir pada tahun 2017 mendatang.

Perusahaan tersebut mengalokasikan 2,5 miliar USD per tahunnya untuk membiayai kegiatan pertambangan – termasuk di antaranya pengeboran sumur, meningkatkan produksi pada sumur-sumur yang sudah ada – sebagai bagian dari usahanya dalam meningkatkan produksi.

Pemerintah telah menargetkan produksi minyak untuk mencapai 818,000 bpd tahun ini, lebih rendah dari target awal yaitu 870,000 bpd, seperti yang tertera di APBN. Pada semester pertama tahun ini, rata-rata produksi minyak adalah 797,000 bpd, masih lebih rendah dari keseluruhan target setahun. Sedangkan, 6,897 mmscfd gas diproduksi pada tengah tahun pertama, dan target pemerintah adalah 6,853 mmscfd, apabila merujuk pada angka dari SKK Migas.



Tuesday, 15 July 2014

Sudah Lama Cadangan Migas Tidak Ditemukan di Indonesia

Indonesia
Indonesia yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya dari sabang hingga merauke sedang mengalami stagnasi dalam produksi energinya. Sungguh mengherankan bukan? Entah karena manajemen yang buruk, teknologi yang kurang, sistem yang korup, atau karena hal yang lainnya.

"Hingga saat ini, kita belum pernah ketemu cadangan minyak baru yang jumlahnya besar. Seperti lapangan Duri dan Minas di Sumatera yang dioperasikan Chevron," kata Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradyana.

Gde juga menjelaskan bahwa SKK Migasterus mendorong eksplorasi minyak dan gas bumi. Hampir seluruh perusahaan minyak dan gas bumi sekarang ini mencari migas sudah tidak lagi di wilayah barat Indonesia, melainkan sudah mengarah ke wilayah timur Indonesia. "Tantangan mencari minyak dan gas di timur Indonesia luar biasa. Selain infrastrukturnya mulai dari jalan, jembatan, dan pelabuhan harus dibangun mulai awal lagi, mengebor di sana juga tidak mudah karena sangat dalam. Biasa kita ngebor di barat di bawah kedalaman 200 meter, di timur pengeboran mencapai kedalaman 1.000 meter lebih, sehingga risikonya sangat besar dan butuh investasi yang besar juga. Kedalaman itu jauh lebih sulit dibandingkan ketika mengeksplorasi migas di wilayah Indonesia bagian Barat yang paling dalam hanya 100 meter di bawah permukaan laut," jelas Gde.

"Studi yang telah dilakukan SKK Migas memperkirakan ada cadangan gas bumi mencapai 55 TSCF (trillions of standard cubic feet) di wilayah Indonesia timur. Jauh lebih besar dibandingkan potensi minyak bumi yang hanya 656 juta MSTB," ujarnya," tambahnya.  Walaupun Gde juga menyampaikan perihal permasalahan dan hambatan eksplorasi di Indonesia bagian timur yaitu masih buruknya infrastruktur. Ketidaklayakan pelabuhan, jalan raya dan pasokan listrik perlu dibenahi dulu untuk memudahkan industri ini ke depannya.

Namun saat ini kebanyakan perusahaan minyak yang ada di Indonesia masih belum menemukan minyak atau gas bumi. Sedangkan berdasarkan skema investasi migas di Indonesia, berapa pun jumlah investasi yang dikeluarkan investor tapi jika tidak mendapatkan migas yang ekonomis maka tidak akan diganti sepeser pun oleh Indonesia.

Adapun dalam semester pertama 2014 ini, Indonesia gagal mencapai target produksi migasnya. Maka sangatlah wajar apabila Indonesia ingin mencapai targetnya, Indonesia harus memaksimalkan blok-blok yang sudah dikelola sembari menunggu infrastruktur Indonesia bagian timur dibangun. Misalnya saja Blok Mahakam. Blok Mahakam sebagai penghasil gas bumi terbesar di Indonesia harus diberi perhatian lebih dan dimaksimalkan. Sayangnya pengelola saat ini yaitu Total E&P dan Inpex akan segera berakhir masa kontraknya pada tahun 2017 mendatang. Isunya Pertamina akan mengambil alih Blok Mahakam yang terkenal sebagai blok sulit. Apa jadinya tata kelola Blok Mahakam ketika berganti alih pengurusan? Apalagi banyak juga yang menganggap bahwa Pertamina belum siap. Jangan kaget kalau produksi migas Indonesia akan merosot tambah tajam dan makin jauh dari gol yang ditargetkan.



Thursday, 8 May 2014

Menengok Eksplorasi Migas Total E&P di Lepas Pantai Bengkulu

Rig Laut Dalam 'Ocean Monarch'
Tahun 2013 lalu, SKK Migas dan didukung oleh Kementerian ESDM menetapkan tahun tersebut sebagai tahun pengeboran (eksplorasi). Menetapkan tahun tersebut sebagai tahun pengeboran atau eksplorasi tidak berarti tahun-tahun sebelumnya atau setelahnya bukan lagi menjadi tahun eksplorasi. Penetapan tahun pengeboran hanya sebagai pengingat agar pelaku industri migas meningkatkan aktivitas eksplorasi mereka.

Salah satu perusahaan migas dunia, yang telah lama beroperasi di Indonesia, Total E&P Indonesie merupakan salah satu dari perusahaan global yang melanjutkan aktivitas eksplorasinya. Total E&P Indonesia yang juga merupakan operator Blok Mahakam ini baru-baru ini mengumumkan akan rencana perusahaan untuk melakukan eksplorasi di Blok Mentawai-1, Bengkulu.

Menariknya, langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur Bengkulu. Sebagai bentuk konkrit dukungan tersebut, Gubernur Bengkulu membentuk Tim Pendukung Kegiatan Eksplorasi Migas di Laut Dalam Propinsi Bengkulu melalui SK Gubernur Bengkulu No. P.241/XXVII/Tahun 2014 yang ditandatangani pada 22 April 2014. SK tersebut melibatkan sekitar 22 instansi terkait kegiatan eksplorasi ini.

Banyak pelaku industri berharap dukungan pemerintah provinsi Bengkulu tersebut dapat memperlancar SKK Migas - Total E&P Indonesia Mentawai B.V. untuk memulai eksplorasi pada akhir Juni mendatang. Seharusnya memang begitu dan bisa ditiru dan diikuti oleh pemerintah daerah lainnya di Indonesia.

Kepala SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan, Tirat Sambu Ichtijar mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui SKK Migas akan selalu mendukung kegiatan eksplorasi dalam rangka meningkatkan lifting migas nasional.

“Kami sangat menghargai dukungan yang telah diberikan oleh Gubernur Bengkulu beserta jajarannya dalam membantu kami dan Total E&P Indonesia Mentawai BV selama ini,” katanya di sela rapat koordinasi antara Total E&P Indonesia Mentawai BV dengan Tim Pendukung Eksplorasi Propinsi Bengkulu, Rabu, 30 April 2014 di Hotel Santika, Bengkulu.

Kegiatan pemboran yang akan dilakukan SKK Migas-Total E&P Indonesia Mentawai B.V ini berada pada Cekungan Bengkulu (Bengkulu basin) berjarak sekitar 40 mil laut (75 km) dari garis pantai Bengkulu sebelah barat dan kedalaman laut berkisar 950 meter pada sumur yang diberi nama Rendang 1-X. Rig yang akan digunakan adalah jenis Submersible Offshore bernama Ocean Monarch. Kegiatan pemboran ini diperkirakan akan berlangsung antara 60 hingga 90 hari.

Menurut laporan Diamon Offshore Inc bulan April lalu, Total E&P Indonesie melalui anak usahanya Total E&P Indonesia Mentawai B.V telah menyewa rig submersible offshore yang disebut Ocean Monarch milik Diamond Offshore Inc. Rig tersebu akan digunakan untuk melakukan pengeboran di Mentawai-1 Block in Bengkulu, lepas pantai Sumatera. Rig tersebut memiliki kapasitas untuk mengebor hingga kedalaman 10.000 kaki.

Biayanya pun tidak tanggung-tangguh. Menurut laporan bulanan (fleet update Diamond Offshore Inc, Total E&P Indonesie menyewa Ocean Monarch dengan biaya US$420.000 per hari atau Rp 4,84 miliar per hari. Ini berarti Total E&P akan menggelontorkan dana sebesar US$25,2 juta hingga US$63 juta atau Rp290,4 miliar hingga Rp725,88 miliar untuk melakukan pengeboran di lepas pantai Bengkulu.

Publik berharap, khususnya masyarakat Bengkulu, berharap kegiatan pemboran ini bisa berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan mendapatkan hasil yang maksimal dengan dukungan dari semua pihak terkait dan seluruh lapisan masyarakat di Bengkulu. Bila pengeboran/eksplorasi berjalan suksus, dalam arti akan ditemukan cadangan migas yang bernilai ekonomis, maka boleh jadi Bengkulu bakal menjadi seperti Kaltim kelak, yang kaya akan sumber daya migas. Tentu, semua pihak berharap eksplorasi di Bengkulu maupun kegiatan eksplorasi migas di tempat-tempat lain dapat berjalan mulus dan membuahkan hasil positif.

Menariknya, rencana kegiatan eksplorasi ini, diumumkan Total pada saat kontrak pengembangan Blok Mahakam masih belum jelas, padahal kontrak hak operatorship yang saat ini dipegang Total E&P Indonesie bakal berakhir sekitar akhir Maret 2017 nanti. Publik berharap pemerintah cerdas dan bijaksana dalam membuat keputusan terkait hak pengelolaan Blok Mahakam. Ada beberapa opsi yang beredar di kalangan media dan industri, bahwa pemerintah tampaknya akan memilih opsi ketiga, yakni melibatkan operator lama dan pemain baru. Semoga
 (*)

Thursday, 21 November 2013

Peran Gas Bumi dalam Perekonomian Indonesia dan Blok Mahakam

Siang itu, saat menunggu pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, secara tak sengaja saya bertemu dengan mantan rekan kerja saya. Sambil menunggu pesawat kami menyeruput kopi di sebuah kedai kopi di bandara tersebut. Rekan saya rupanya hendak berangkat dinas lagi ke Brasil untuk kembali bekerja di sebuah proyek lapangan minyak lepas pantai di negara tersebut. Belakangan memang cukup banyak insinyur-insinyur Indonesia yang bekerja di luar negeri, baik di Timur Tengah, Afrika maupun di Amerika Selatan. Ketiga kawasan itu, memang sedang giat-giatnya mengembangkan proyek-proyek minyak dan gas bumi.
 
Sambil membuka-buka lembaran koran, mata saya tertuju pada sebuah berita, bahwa era minyak sudah lewat, saatnya era gas bumi. Berita di salah satu media nasional tersebut mengutip salah satu pejabat SKK Migas, yang mengatakan bahwa Indonesia kini dan kedepan boleh berharap pada produksi gas bumi, sementara produksi minyak bakal terus menurun secara alamiah. Hasil pengeboran beberapa tahun belakangan, kata pejabat itu, lebih banyak gas bumi yang diperoleh ketimbang minyak. 

Proyek-proyek besar kedepan juga lebih banyak merupakan proyek gas bumi seperti Blok Masela (Inpex dan Shell), Blok East Natuna (Pertamina), proyek LNG Senoro (Medco dan Mitsubishi), IDD, train 3 BP, juga akan memproduksi gas bumi, dengan pengecualian Blok Cepu. Indonesia kini hanya berharap produksi Blok Cepu untuk menambah produksi minyak. Namun, dalam 10 tahun terakhir tidak ada penemuan cadangan minyak terbukti sekelas Cepu. Penemuan cadangan minyak terbukti terbesar dan terakhir adalah Blok Cepu.

Kami pun terlibat diskusi ringan sambil menyeruput kopi Toraja hangat. Kolega saya itu bercerita bahwa Brasil dalam 10 tahun terakhir begitu giat melakkan eksplorasi di lepas pantai, yang sebagian besar tergolong lapangan laut dalam. Dan upaya tersebut telah membuahkan hasil. Produksi minyak Brasil kini melonjak dan beberapa lembaga memperkirakan Brasil bakal menjadi produsen minyak ke-6 terbesar di dunia, bila proyek-proyek yang sedang berjalan sudah mulai beroperasi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Cadangan minyak terbukti Indonesia saat ini hanya sebesar 3,7 miliar barel. Cadangan tersebut, bila tidak ada tambahan baru, bakal habis 10-12 tahun lagi. Bila tidak ada tambahan cadangan, maka bersiap-siaplah Indonesia untuk mengimpor minyak 100%. Tentu saja ini tidak sehat bagi keuangan negara dan kestabilan ekonomi karena sewaktu-waktu ekonomi terancam gejolak bila harga minyak dunia naik. Lain soal bila produksi minyak dalam negeri masih cukup signifikan, sehingga kenaikan harga minyak tidak terlalu berdampak pada keuangan negara (APBN). 

Cadangan gas bumi, dalam 30-40 tahun juga bakal habis bila tidak ada tambahan cadangan baru. Namun, potensi Indonesia sebetulnya masih ada karena baru 60 dari 130 cekungan (basin) yang baru dieksplorasi. Masih ada separuh lagi yang belum tersentuh atau dieksplorasi. Ini merupakan peluang bagi perusahaan migas untuk melakukan eksplorasi. Persoalannya, sebagian besar cekungan tersebut berada di lepas pantai dan laut dalam serta tergolong daerah frontier. Mengeksplorasi kawasan itu tentu berisiko tinggi dan membutuhkan modal besar. 

Disini sebetulnya pemerintah dapat berperan, yakni memberikan insentif kepada perusahaan migas untuk melakukan eksplorasi di laut dalam dan daerah-daerah frontier. Disamping itu, perusahaan eksplorasi seharusnya tidak diberi beban pajak (PBB) untuk Working Area yang masih dalam proses pengembangan atau eksplorasi. Alasannya, lapangan tersebut belum tentu ada cadangan migas terbukti. Indonesia Petreleum Association (IPA) juga telah menyuarakan keberatan mereka terhadap pengenaan PBB pada WK eksplorasi.

Disamping mendorong investasi untuk eksplorasi, pemerintah juga perlu menjaga tingkat produksi minyak dan gas bumi, terutama pada blok-blok yang sudah berproduksi dan memberikan kontribusi signifikan bagi negara, termasuk Blok Mahakam, yang menyumbang 80% gas bumi ke fasilitas LNG Bontang. Pemerintah perlu mempertimbangkan kelanjutan operasional Blok Mahakam saat memutuskan operator baru pasca 2017 nanti. Total E&P Indonesie (dan Inpex) telah mengajukan perpanjangan kontrak tahun 2007, namun hingga saat ini pemerintah belum mengambil keputusan. Bila keputusan ditunda, dikhawatirkan akan berpengaruh pada tingkat produksi dan rencana investasi lanjutan untuk mengembangkan blok tersebut.

Keputusan perpanjangan (atau tidak) Blok Mahakam memang mengundang pro-kontra. Namun, di atas semua pro-kontra itu, pemerintah perlu mempertimbangkan optimalisasi produksi, komitmen investasi, penerapan teknologi dan risiko dalam mengambil keputusan. Ini penting, karena keputusan yang diambil pemerintah akan berpengaruh pada kontribusi pendapatan negara dari Blok Mahakam. Publik berharap pemerintah akan segera mengambil keputusan tahun ini. Bila keputusan diambil tahun ini, operator punya waktu yang cukup untuk membuat perencanaan investasi dan pengembangan lanjutan Blok Mahakam. (*)