Wednesday, 11 February 2015

Pertamina Tidak Niat Untuk Mengelola Blok Mahakam

Pertamina
Lagi-lagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meminta kepada Pertamina untuk segera menyampaikan proposal final pengajuan pengelolaan operasi Blok Mahakam pada bulan Februari ini.

Ternyata sekarang ini proposal pengajuan pengelolaan Blok Mahakam sedang dikaji oleh jajaran direksi Pertamina sebelum diserahkan oleh komisaris.

Pertamina mengatakan bahwa banyak hal yang harus dipertimbangkan Pertamina dalam proses pengajuan proposal Blok Mahakam tersebut. Dalam proposal itu Pertamina akan menjelaskan kepada pemerintah tentang pengelolaan dan rencana bisnis Pertamina dalam mengoperasikan Blok Mahakam.

Sedangkan tanpa dasar argumen yang jelas, Pertamina merasa harus segera mengambil alih produksi Blok Mahakam dari PT Total E & P. Sebab, kalau tidak, produksi minyak dan gas Blok Mahakam akan terancam turun.

Perkiraan penurunan produksi Blok Mahakam akan berkisar 10-20 persen berdasarkan natural decline. Jika dibiarkan selama setahun, produksi Mahakam akan turun 20 persen untuk gas.

Namun kalau hanya dalam akhir bulan ini dan awal bulan depan, penurunannya tidak terlalu banyak. Karena itu, untuk menjaga stabilitas produksi minyak, Pertamina harus segera mengambil alih operasi Blok Mahakam. Kalau serba tidak jelas, nanti investasinya tidak jadi dilaksanakan.

Kalau seperti ini, kita sendiri yang jadi bingung. Pertamina ini maunya apa sih? Jelas-jelas Pertamina yang sudah sangat ngebet untuk kelola Blok Mahakam, tapi begitu diberikan kesempatan malah tidak digunakan secepatnya.


Ataukah memang Pertamina tidak memiliki dana untuk mengelola Blok Mahakam? Apabila demikian, sebaiknya Pertamina tidak usah gengsi untuk menggandeng Total E&P dalam mengelola Blok Mahakam. Total kan sudah menyatakan bersedia untuk investasi hingga triliunan rupiah di Blok Mahakam.  Selesai toh?

Monday, 2 February 2015

Pertamina Ditagih Soal Blok Mahakam

Dwi Soetjipto
Kita semua juga sudah tahu bahwa pemerintah akhirnya sudah memberi ijin kepada PT Pertam­ina (Persero) untuk mengelola Blok Mahakam. Namun, ternyata Pertamina masih punya masalah, yakni salah satu yang terberat adalah dari segi keuangan untuk secara penuh bisa menguasai Blok Mahakam.

Saking lamanya, sampai-sampai Kepala Unit Pengendalian Kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widhyawan Prawiraatmadja sudah menagih dan menekan Pertamina untuk segera menyerahkan proposal menge­nai pengambilalihan pengelo­laan Blok Mahakam. 

Menurut kabar yang beredar, saat ini Pertam­ina sedang menganalisis data, menyiapkan rencana pengelo­laan, dan mempertimbangkan situasi harga minyak dunia yang sedang turun. 


Pemerintah juga sudah memfasilitasi pertemuan antara Pertamina dan pengelola saat ini, PT Total E&P Indonesie. Tujuan­nya, agar Pertamina bersiap seka­ligus transfer informasi.

Sudirman meminta Pertamina proaktif dan menyiapkan diri ter­masuk ketersediaan pendanaan. Pemerintah juga memberikan kesempatan pemda ikut serta. 

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto sendiri menyatakan bahwa bulan depan pihaknya akan mengajukan proposal fi­nal terkait pengelolaan Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Menurutnya, saat ini proposal tengah disiapkan. Dia menegaskan bahwa Pertamina akan tetap minta 100 persen.

Terkait pembagian jatah atau hak partisipasi yang diminta pemda setempat, Pertamina akan berko­munikasi terkait porsi yang diminta. Bahkan, tidak menutup kemungki­nan Pertamina akan tetap meng­gandeng Total E&P Indonesia untuk keberlangsungan operasi.

Direktur Energy Watch Fer­dinand Hutahaean mengatakan, jika Pertamina ingin secara penuh menguasai Blok Mahakam maka harus mempunyai keuangan yang mumpuni. Sebab, masalah keuangan saat ini menjadi kendala Pertamina menguasai Blok Mahakam.


Dilema seperti ini lucu sebenarnya. Jelas-jelas Total E&P Indonesie sudah menyatakan kesediaannya untuk invetasi di Blok Mahakam hingga triliunan rupiah. Sedangkan sekarang keputusan soal Blok Mahakam jadi mandek karena masalah keuangan. Lah, itu kan sudah ada di depan mata, kenapa tidak diambil saja. Gengsi?


Padahal dengan bekerjasama dengan Total, tampaknya itu sudah menjadi win-win solution yang terbaik. Bahkan Pertamina akan lebih diuntungkan karena akan bisa mendapatkan ilmu dan teknologi yang dimiliki oleh Total.

Thursday, 29 January 2015

Blok Mahakam Dipastikan Akan Diberikan Kepada Pertamina

Pertamina
Akhirnya ada juga kepastian yang datang dari Blok Mahakam, setelah rumor yang tidak ada habis-habisnya terkait operator penerus Blok Mahakam berikutnya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said sudah menyatakan bahwa pengelolaan Blok Mahakam setelah 2017 akan diteruskan PT Pertamina (Persero).

Dia mengatakan bahwa soal Blok Mahakam sudah sering disampaikan kecenderungannya bahwa Pertamina akan teruskan blok ini. Menurutnya juga, pemerintah juga sudah memfasilitasi pertemuan antara Pertamina dengan pengelola saat ini, Total E&P Indonesie. Tujuannya dari pertemuan itu adalah agar Pertamina bersiap sekaligus transfer informasi.

Pertamina diminta untuk proaktif dan menyiapkan diri termasuk ketersediaan pendanaan. Kabarnya Pertamina sampai harus pontang-panting ke sana kemari untuk mencari pendanaan tersebut.

Pemerintah juga sudah memberikan kesempatan kepada pemda untuk ikut serta. Pemerintah sebelumnya sudah bertemu dengan pemda dan DPRD. Inti dari pertemuan tersebut adalah untuk memfasilitasi agar pemda punya partisipasi di Blok Mahakam.

Sudirman juga berpendapat bahwa pertukaran aset antara Pertamina dan Total juga bisa menjadi pilihan yang bisa diambil.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, saat ini Pertamina sedang menyiapkan proposal pengelolaan Blok Mahakam pasca-2017. Pertamina memang sudah berulangkali menyatakan kesiapan mengelola 100 persen Blok Mahakam.

Pemerintah mengharapkan agar Pertamina sudah bisa menyampaikan proposal pada Januari 2015 untuk kemudian diputuskan pada Februari 2015.


Banyak pihak yang berharap bahwa pada akhirnya Blok Mahakam diberikan kepada Pertamina, namun dengan catatan Pertamina akan bekerjasama dengan Total E&P Indonesie sebagai operator selama ini supaya tidak ada kekagokan yang mengakibatkan penurunan produksi.

Tuesday, 20 January 2015

Blok Mahakam Akan Diputuskan Bulan Depan

Sudirman Said
Setelah sempat vakum beberapa lama, akhirnya terdengar lagi kabar tentang nasib Blok Mahakam. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini menyatakan bahwa akan memastikan untuk mengambil putusan terkait perpanjangan kontrak blok Mahakam di Kalimantan Timur pada Februari mendatang. Adapun Pemerintah Daerah sudah ditentukan bahwa berhak atas 10 persen participating interest dari kontrak tersebut terkait wilayah kerja.

Saat ini, Kementerian yang dipimpin oleh Sudirman Said itu sedang mematangkan sejumlah poin kesepakatan yang bakal dituangkan dalam draf kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC) blok Mahakam.

"Mahakam Februari bisa diputuskan. Mendekati final para pihak (Pertamina, Total dan Inpex) sudah paham maunya pemerintah seperti apa. Tinggal duduk satu atau dua kali lagi," kata Sudirman.

Sudirman juga menyinggung adanya pembagian hak partisipasi atau participating interest (PI) untuk Pemerintah Daerah (Pemda) Kalimantan Timur. Hal ini diputuskan setelah beberapa waktu lalu mantan bos PT Pindad itu bertemu dengan jajaran Pemda Kaltim di kantornya.

Berdasarkan UU no 22 tahun 2001 tentang Migas, Pemerintah Daerah berhak atas 10 persen PI dari wilayah kerja migas yang terletak di area administrasinya.

Namun lantaran membutuhkan dana yang besar pada saat kegiatan eksplorasi dan produksi (cash call) tak jarang sejumlah Pemda "menjual" hak partisipasinya ke perusahaan migas swasta. Padahal pemberian hak partisipasi ke Pemda ditujukan untuk meningkatkan ekonomi daerah sesuai dengan esensi otonomi daerah.

"Tapi jangan sampai (PI) yang Pemerintah Pusat diberikan kepada pihak atau orang yang tidak punya niat untuk membangun industri migas nasional," tegas Sudirman.

Saat ini, blok Mahakam dikelola oleh PT Total E&P Indonesie dan juga Inpex Corporation yang akan habis kontrak pada 2017. Sebelumnya, pemerintah memastikan akan memberikan blok tersebut kepada PT Pertamina (Persero) dengan porsi mayoritas namun tetap melibatkan kontraktor sebelumnya berdasarkan asas keadilan atau fairness.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pemerintah sudah menjanjikan untuk memberikan keputusan terkait blok Mahakam sejak pemerintahan SBY terdahulu. Namun hingga sekarang kepastian tersebut belum ada.


Memang sudah ada keputusan bahwa hak mayoritas akan diberikan kepada Pertamina. Tetapi sama seperti kritik-kritik yang banyak muncul, sebaiknya Pertamina realistis dan tidak terlalu sombong dengan serta merta mengelola blok sulit seperti blok Mahakam sendiri. Alangkah lebih bagus apabila Pertamina mengelola blok tersebut bersama-sams dengan operator terdahulu. Pertamina akan bisa belajar dari perusahaan sekelas Total.

Friday, 16 January 2015

Blok Mahakam Ikut Terseret Kepentingan Ingin Otsus

KNPI
Kisruh seputar kelompok yang menuntut agar Kalimantan Timur diberikan hak atas Blok Mahakam. Digunakannnya kantor Gubernur Kaltim sebagai tempat pelaksanaan Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) KNPI Kaltim sempat menimbulkan polemik. Ketua KNPI Kaltim Khairuddin alias Khoi yang akhirnya digantikan Donna Faroek, menuding Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak tidak netral.

Khoi menilai, Awang yang harusnya berada di posisi "netral" justru dianggap berpihak pada kubu Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Yunus Nusi, dengan memperbolehkannya Musprovlub digelar di Aula Kantor Gubernur Kaltim.

Namun tudingan tersebut langsung ditepis Awang. Menurutnya, dia memperbolehkan pemakaian aula tersebut karena sudah mendapat laporan dari panitia. Dia menilai dalam aturan AD/ART KNPI ada mekanisme Musprovlub dan hal itu dianggap sah. "DPP (Dewan Pengurus Pusat, Red) KNPI datang kepada saya dan mengakui Musprovlub itu sah. Karena itu saya izinkan penggunaan tempat itu. Kalau bilang tidak netral, mana buktinya," kilahnya. 

Apakah penggulingan Khoi sebenarnya ada hubungannya dengan tuntutan 30 persen KNPI terhadap Sumur Migas Blok Mahakam? Awang membantah. Namun cara-cara yang dilakukan Khoi dan pengurus lain diakui disesali Awang. Bahkan Awang menyebut penutupan Kantor Gubernur, Sungai Mahakam, Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan sebagai cara-cara preman. "Saya tidak suka cara-cara itu. Itu gaya preman. Silahkan tulis saja. Kalau preman ya dihadapi dengan aparat," tandasnya.

Terpisah, tokoh pemuda Kaltim Abraham Ingan meminta masing-masing pihak menjaga keamanan dan kondusifitas. Sebab saat ini Kaltim sedang berusaha bersatu untuk sama-sama berjuang meminta hak Otonomi Khusus (Otsus). Jangan sampai karena ada konflik KNPI Kaltim yang melibatkan beberapa Organsasi Kemasyarakatan (Ormas), justru memecah persatuan. "Secara tidak langsung ini akan melemahkan upaya kita berjuang bersama. Karena saat ini yang kita perlukan untuk perjuangan Otsus adalah kekompakan dan persatuan," katanya.

Sedangkan Ketua Laskar Pemuda Adat Dayak Kaltim, A Vendi Meru SH mengatakan organisasinya mendukung penuh hasil musprovlub. "Bagi kami, yang penting dia (ketua KNPI terpilih) mendukung otsus (otonomi khusus). Ketua hasil musprovlub mendukung otsus sehingga kami dukung," pungkasnya.


Jelaslah bahwa konstalasi politik di Kalimantan Timur sana sedang sangat kencang. Keingingan untuk mendapatkan Otsus sedemikian kencangnya hingga Blok Mahakam pun ikut terseret. Memang Blok Mahakam sangat strategis sehingga tidak bisa terlepas dari keinginan berbagai pihak untuk mendapatkannya.