Wednesday, 17 December 2014

Pemprov Kaltim Ingin Ikut Dapat Bagian Blok Mahakam

Pemprov Kalimantan Timur
Makin banyak pihak yang ingin mendapatkan jatah di Blok Mahakam. Pemerintahan propinsi Kaltim kini juga mengincar Blok Mahakam. Sejumlah pergerakan turut direncanakan agar Kaltim kebagian hak partisipasi (participating interest/PI) atau kepemilikan aktif melalui kerja sama (working interest/WI).

Menuju penentuan Pertamina menggantikan Total E&P Indonesie dan Inpex Corp yang kontrak operasinya berakhir pada 2017, KNPI Kaltim mendesak agar pusat memberikan hak daerah. Ketua KNPI Kaltim Khairuddin menyatakan bahwa organisasi memantapkan diri menyiapkan aksi agar daerah terlibat dalam pengelolaan blok kaya migas di pesisir Kukar itu.

KNPI berencana menutup semua fasilitas umum seperti bandara dan kantor gubernur demi meminta keadilan kepada pusat. Ditegaskan, cara lobi, negosiasi dan audiensi, atau langkah lain yang disebut elegan, sudah berulang-ulang. Semua usaha selalu kandas atau ditolak mentah-mentah pusat. Cara “keras” pun menjadi yang terakhir.

“Kami fokus dalam perjuangan Blok Mahakam. Memang hampir sama dengan otsus. Yang jelas, semua DPD KNPI (kabupaten/kota) se-Kaltim sepakat menutup semua fasilitas umum serentak dalam waktu dekat,” tegasnya.

Dikatakan, estimasi massa saat pergerakan sudah mencapai seribu orang. Koi --panggilan Khairuddin-- mengatakan bahwa Kantor Gubernur Kaltim maupun bandara akan ditutup dengan kain hitam. Aktivitas di dalamnya dipersilakan berjalan. KNPI juga akan membentangkan spanduk berukuran besar di Jembatan Mahakam, Samarinda. Kemudian diadakan mimbar bebas dan beberapa aksi teatrikal.

“Semua sudah dimatangkan, tinggal dilaksanakan. Pokoknya, tunggu saja tanggal mainnya, yang jelas kami pantang mundur demi berjuang untuk Kaltim,” jelasnya.

Penutupan Kantor Gubernur Kaltim di Jalan Gajah Mada, kata Koi, tak berhubungan dengan sikap pemprov yang mendukung otsus maupun Blok Mahakam. Menurutnya, Kegubernuran merupakan simbol pemerintah pusat. Bagaimanapun, provinsi masih menjadi kepanjangan tangan pusat di daerah.

Terpisah, Plt Sekprov Kaltim Rusmadi meminta agar semua pihak mengambil langkah bijak dalam perjuangan otsus maupun Blok Mahakam. “Pakai cara-cara yang gentle,” ucap dia, singkat, ketika dimintai pendapat seputar rencana penutupan kantor gubernur.

Tentang Blok Mahakam, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengaku sudah berbicara dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said. Kementerian mempersilakan Kaltim berbicara dengan Pertamina jika BUMN itu telah ditetapkan menggantikan Total E&P Indonesie dan Inpex Corp yang 40 tahun berkarya di blok kaya migas ini.

“Kaltim tinggal selangkah lagi, yakni ke Pertamina untuk membicarakan kompromi (PI). Kami optimistis mendapatkan hak itu,” jelas Faroek.


Yang pasti seperti yang sudah kita ketahui bersama, meski entah berapa persentase yang akan didapat oleh berbagai pihak tersebut atas Blok Mahakam, namun pastinya Total E&P Indonesie harus tetap dapat bagian supaya operator baru tidak kagok dalam mengoperasikannya. Proses transisi harus tetap ada supaya tidak kacau.

Thursday, 11 December 2014

Pertamina Akan Bertemu Total Untuk Membicarakan Blok Mahakam

Blok Mahakam
PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa mereka siap melakukan terobosan apabila pemerintah memang mengabulkan keinginan untuk mengelola Blok Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim).

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menyatakan bahwa dalam waktu singkat pihaknya akan meningkatkan kinerjanya ke depan dengan lebih baik.

"Dengan waktu yang singkat Pertamina akan meningkatkan kinerja ke depan lebih banyak. Kita juga mengharapkan sumur gas Blok Mahakam diserahkan ke Pertamina. Kalau itu bisa kita ambil, insya Allah akan ada lompatan," ujarnya.

Pihaknya telah menyiapkan sedini mungkin untuk dapat mengambil alih Blok Mahakam, yang sebelumnya dikelola oleh Total E&P Indonesie.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Widhyawan Prawiraatmaja menginformasikan bahwa Kementerian sedang berupaya untuk menginisiasi pertemuan Pertamina dengan Total. Pertemuan itu untuk mempersiapkan masa transisi pengalihan ladang minyak dan gas bumi Blok Mahakam di Kalimantan Timur, dari Total kepada Pertamina.

"Agar mereka (Pertamina-Total) segera bicara menyiapkan bagaimana proses transisi sampai 2017 nanti," ujar Widhyawan.

Menurut Widhyawan, Pertamina sudah memiliki semua data terkait Blok Mahakam. Namun Pertamina masih butuh waktu beberapa pekan lagi untuk mempelajarinya sebelum menyerahkan proposal pengelolaan Blok Mahakam setelah kontrak Total habis pada 2017.

Blok Mahakam kini masih dipegang Total hingga 2017. Setelah kontrak Total habis, rencananya pemerintah akan mengalihkan hak pengelolaan Blok Mahakam ke Pertamina. Syaratnya, Pertamina harus menyerahkan proposal pengelolaan Blok Mahakam terlebih dahulu, agar kepentingan negara seperti lifting migas tak turun. Sementara Kementerian meminta masa transisi peralihan kontrak itu bisa selesai sebelum 2017. "Inilah makanya mereka harus bicara," kata Widhyawan.


Kita berharap saja semoga proposal tersebut akan masih memberikan bagian kepada Total walau tentu saja Pertamina sebagai operator utama. Blok Mahakam terkenal sebagai blok sulit. Apabila mendadak Pertamina terima begitu saja, maka besar kemungkinan Pertamina akan kagok dan kemudian produksi menjadi tidak maksimal padahal Indonesia sedang akan menghadapi krisis minyak.

Tuesday, 2 December 2014

Bos Pertamina Baru, Batal Menggandeng Total di Blok Mahakam?

Dwi Soetjipto
Pergantian seluruh pejabat Direksi sekaligus terpilihnya Dwi Soetjipto sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) di saat yang sama otomatis telah membuka babak baru dalam setiap kebijakan strategis perusahaan pelat merah sektor energi ini.

Banyak pihak yang menduga bahwa sejumlah kebijakan akan kembali dikaji bahkan berbelok di luar perkiraan. Masalah yang cukup dikhawatirkan adalah mengenai skema pengelolaan Blok strategis Mahakam, di Kalimantan Timur yang akan habis masih kontraknya di 2017.

Sebelum lengser dari jabatan Plt Dirut Pertamina, Muhamad Husen sempat mengeluarkan pernyataan bahwa perusahaan optimistis bisa mengelola Blok Mahakam secara penuh atau 100%. Sementara, pemerintah mengharapkan skema pengelolaan ini tetap menggandeng perusahaan yang kini tengah mengoperatori Blok itu, yaitu Total E&P Indonesie.

Tak ada yang menyangka bahwa Dwi yang baru beberapa hari resmi menjabat sebagai Dirut Pertamina melontarkan pernyataan khusus terkait hal ini. Ia akan melakukan review terhadap kebijakan Direksi lama terkait pengelolaan Blok Mahakam.

Pernyataan tersebut sangat disayangkan. Harapan publik supaya apabila nantinya Pertamina justru membagi hak Participating Interest (PI) kepada Total. Melihat pengelolaan Blok Mahakam saat ini, Total hanya memiliki hak PI sebesar 50%, sementara sisanya dimiliki perusahaan asal Jepang, Inpex Corporation.

Pengamat Kebijakan Migas, Yusri Usman meyakini bahwa perusahaan pelat merah yang telah masuk skala global seperti Pertamina memiliki kapasitas dalam mengelola Blok Mahakam, bahkan tanpa campur tangan operator sebelumnya. "Tenaga ahli hulu migas Pertamina sudah sangat piawai dalam mengelola Blok Migas," ujarnya.

Yusri melihat dari sejarah Pertamina yang mampu mengelola Blok West Madura Offshore (WMO) pasca berakhirnya kontrak dari Kodeco. Kemudian berlanjut pada pengelolaan Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang saat itu diakuisisi Pertamina dari British Petroleum (BP).

"Contohnya seperti Blok WMO ketika saat dikelola oleh Kodeco, produksinya tinggal 13.000 barel per hari (bph) dan sekarang sudah mencapai 22.000 bph dan Blok ONWJ yang pada saat diakuisisi oleh Pertamina dari British Petroleum pada tahun 2009 produksinya hanya 21.000 bph dan saat ini sudah mencapai 46.000 bph," terang Yusri.

Yusri berkomentar bahwa Blok Mahakam adalah persoalan nasionalisme dan harga diri anak bangsa. Tak seorang pun, bahkan pengambil keputusan meremehkan kapasitas bangsanya sendiri.


Nah masalahnya persoalan teknis ya tidak bisa bawa-bawa nasionalisme. Nasionalisme buta bisa menjerumuskan bangsa. Kita lihat saja kenyataannya bahwa Pertamina memang belum mampu untuk mengelola blok sesulit Blok Mahakam sendirian. Lagipula Pertamina akan bisa mengambil untung dengan mendapat share pengalaman dan teknologi yang dimiliki oleh Total.

Wednesday, 26 November 2014

Pertamina akan Menggandeng Total dalam Mengelola Blok Mahakam

Blok Mahakam
Setelah pemerintah akhirnya mengumumkan bahwa Blok Mahakam akan diberikan untuk Pertamina namun dengan catatan bahwa Pertamina tetap menggandeng Total, PT Pertamina (Persero) akan mengirimkan pengajuan proposal kepada pemerintah.

Proposal tersebut terkait ketertarikan dan kemampuan untuk mengelola Blok Mahakam, di Kalimantan Timur. Masalahnya, saat ini blok tersebut dikelola oleh Total E&P Indonesie yang bermitra dengan Inpex Corporation dan akan habis pada tahun 2017.

"Kami akan kirimkan proposal, di dalamnya ada program-program. Kita lihat data dulu. Kami akan meminta waktu selama tiga bulan untuk menyusun proposal. Mudah-mudahan lebih cepat," jelas Plt Direktur Utama Pertamina Muhammad Husen.

Husen akan mengundang pemerintah untuk menyampaikan kesiapan Pertamina mengelola blok Mahakam, dan nantinya kesiapan ini sudah dipersiapkan dengan data yang ada. "Iya-iya tentu. Posisinya kita harus tahu dulu datanya," katanya.

Kemudian Husen menjelaskan bahwa untuk mengelola blok ini nantinya Pertamina akan diserahkan sendiri atau bermitra dengan pihak lain tentunya merupakan keputusan dari pemerintah. "Nanti lihat dari hasil review-nya," ujarnya.

Menurutnya kemampuan Pertamina untuk mengelola blok tersebut sudah pernah dipaparkan. "Kami sudah lama yakinkan dari sisi teknologi. Karena proposal didasarkan pada itu," tuturnya.

Pertamina juga akan mengirim tim untuk mendata Blok Mahakam yang terletak di Kalimantan Timur tersebut guna membuat proposal pengelolaan blok tersebut.

 "Pekan ini, kami mau ke sana melihat data yang diperlukan untuk menyusun proposal," ujar Ali.

Sedangkan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya menyatakan bahwa Pertamina juga siap bekerjasama dengan Total dan Inpex untuk mengelola blok tersebut, dengan pertimbangan bisnis.

"Sebagai anggota direksi, saya menyatakan Pertamina siap. (Kerjasama dengan Total dan Inpex) masih kami bicarakan secara business to business," ujarnya.

Pemerintah sebelumnya sudah menegaskan bahwa PT Pertamina (Persero) mendapat hak mayoritas dalam mengelola Blok Mahakam, Kalimantan, namun disarankan tetap menggandeng Kontraktor Kontrak Kerjasama sebelumnya.

Pelaksana Tugas Direktur Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Naryanto Wagimin menjelaskan bahwa pemberian hak tersebut tidak begitu saja, pemerintah memberikan hak prioritas ke Pertamina dengan syarat yang bisa diajukan perusahaan tersebut.

"Bisa 100 persen, bisa juga diatas 51 persen. Cuma kita  mau liat penawaran dari dia dulu," ungkapnya.

Seperti yang sudah kita ketahui, Total E&P Indonesie 100 persen mengelola kontrak pertama pengelolaan Blok Mahakam pada tahun 1967 hingga 1997. Perpanjangan kontrak kedua pada 1997 hingga 2017, Total E&P Indonesie mengelola bersama perusahaan gas asal Jepang Inpex Corp.


Memang keputusan untuk memberikan Blok Mahakam kepada Pertamina patut didukung, namun alangkah baiknya apabila Total diikutsertakan dengan jumlah persentase yang cukup signifikan mengingat pengalaman mereka. Pertamina juga akan untung karena mendapatkan pengalaman dan teknologi yang dimiliki oleh Total.

Monday, 17 November 2014

Kelanjutan Kontrak Blok Mahakam Akan Diumumkan Pekan Depan

Sudirman Said
Setelah berkali-kali dirumorkan bahwa Blok Mahakam akan segera diputuskan kepada siapa perpanjangan kontraknya akan diberikan, hingga kini belum terealisasi juga ramalan tersebut.

Namun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, melontarkan pernyataan bahwa pemerintah akan mengumumkan kelanjutan kontrak empat blok minyak dan gas pada pekan ketiga November 2014. Empat blok tersebut merupakan bagian dari 19 kontrak yang sedang dikaji dan hampir selesai masa kontraknya.

Sudirman memberikan keterangan bahwa kelanjutan kontrak itu sedang dibahas oleh tim kementerian dan beberapa pihak dari luar lembaganya. Tim tersebut dipimpin oleh Kepala Unit Pengendali Kinerja ESDM, Widyawan Prawiraatmaja.

Widyawan menyatakan bahwa dua dari empat kontrak yang akan diumumkan tersebut adalah Blok Kampar di Riau dan Blok Pase di Aceh. Selanjutnya, pembahasan berlanjut ke kontrak-kontrak yang akan habis pada 2015. "Blok ini silakan dimanfaatkan oleh Pertamina. Prosesnya kami serahkan ke Pertamina, dan nanti Pertamina yang memutuskan," katanya.

Saat ini, Blok Kampar dikelola oleh Medco Energy dan Blok Pase oleh Triangle Energy Ltd. Blok Kampar diketahui bisa menghasilkan 1.800 barel per hari (bph) minyak mentah, sedangkan produksi gas di Blok Pase mencapai 80,5 juta kaki kubik per hari.

Nah, dua blok lainnya yang dijanjikan akan segera diumumkan tidak diungkapkan. Namun apabila kita memperhatikan dari berbagai pemberitaan sebelumnya, maka sangat kuat kemungkinan bahwa Blok Mahakam adalah salah satu blok yang akan diumumkan nasib perpanjangan kontraknya pekan mendatang.


Sebelumnya Sudirman juga sudah pernah menyatakan bahwa perpanjangan kontrak akan menjadi fokus awal dari kementerian yang baru dipimpin olehnya tersebut.

Wednesday, 12 November 2014

Keputusan Akan Blok Mahakam Segera Rampung

Blok Mahakam
Hingga sekarang ini sumur gas di Blok Mahakam, Kalimantan Timur masih dikelola oleh Total E&P Indonesie. Kontrak pengelolaan blok tersebut akan habis pada akhir 2017 nanti. Kepada siapakah pemerintah akan menyerahkan pengelolaan blok tersebut?

Tampuk kepemerintahan sudah berganti, namun masih belum ada keputusan pemerintah terhadap permintaan PT Total E&P Indonesie untuk menjalankan masa transisi selama 5 tahun di blok minyak dan gas (migas) tersebut.

Total sangat mengharapkan agar Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa segera membuat keputusan terhadap proposal masa transisi itu.

"Mudah-mudahan pemerintahan yang baru lebih cepat tanggap, karena kalau keputusannya makin cepat maka semakin baik. Lebih jelas ke depan maka siapapun menjadi aktornya akan lebih gampang diputuskan," ucap VP Finance, VP HR, Communications and General Services Total E&P Indonesie, A. Noviyanto.

Total kini sudah menyampaikan bahwa mereka memilih mengajukan proposal masa transisi ketimbang perpanjangan masa kontrak kerja di blok Mahakam karena melihat besarnya keinginan pemerintah untuk menyerahkan blok Mahakam kepada PT Pertamina. Sehingga bagi Total opsi yang terbaik apabila Pertamina mau masuk adalah mengajukan masa transisi.

Dalam proposal tersebut, Total mengajukan kerjasama dengan perusahaan migas pilihan pemerintah untuk membuat operating production unit untuk mengelola blok Mahakam.

Di operator ini Total akan memiliki porsi saham sebesar 30%, Inpex Corporation, perusahaan migas asal Jepang dan mitra Total di Blok Mahakam memiliki 30% saham, sedangkan 40% saham sisanya menjadi milik perusahaan migas yang akan mengelola Mahakam.

Tidak hanya itu, melalui operator itu pula Total akan berbagi ilmu, pengalaman, data-data teknis selama mengelola blok Mahakam sejak 1967
kepada perusahaan migas pilihan pemerintah.

"Periode transisi itu saya pikir memang proposal yang beralasan dan mudah-mudahan pemerintah melihat itu sebagai opsi yang bagus dan Total sebagai perusahaan yang bertanggungjawab tidak akan meninggalkan tempat dengan sesuatu yang jelek," jelas Noviyanto.

Pada saat yang sama, Direktur Utama Pertamina M. Husen sudah melakukan rapat membahas nasib kontrak itu dengan Menteri ESDM Sudirman Said.

Husen menyatakan bahwa dirinya dan Menteri ESDM memang membicarakan soal nasib Blok Mahakam.

Husen menyampaikan bahwa ada dua mekanisme yang dibahas terkait nasib Blok Mahakam nanti.

"Pertama mekanismenya adalah, kami (Pertamina) dan Total menjadi operator bersama. Kedua, Total tetap menjadi operator di Mahaka, tapi Pertamina ditawarkan blok migas Total di luar negeri. Itu masih dalam pembahasan," paparnya.

Husen juga mengatakan bahwa Pertamina diminta mempersiapkan presentasi kepada Menteri ESDM tentang kesiapannya dalam mengelola Blok Mahakam.

"Presentasinya dalam waktu yang sebentar lagi akan dilakukan," ucap Husen.


Kalau ditimbang-timbang sih memang sebaiknya Blok Mahakam diberikan sesuai proposal yang diajukan oleh Total. Bagus juga kan Pertamina nantinya akan mendapat ilmu dan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan sekelas Total. Bekal tersebut bisa digunakan dalam mengelola berbagai blok migas lain ke depannya.